Wednesday, November 28, 2012

Bisnis Sampingan yang Menguntungkan


Written by Fitri Hariyadiningsih   
Tuesday, 23 October 2012
Dikutip dari Majalah Sekar
http://majalahsekar.com/dunia-usaha/profil/477-bisnis-sampingan-yang-menguntungkan
alt
Berawal dari rasa iseng ingin memiliki bisnis sampingan, di luar pekerjaannya sebagai karyawan, akhirnya Kartini pun keterusan. Bisnis siomay yang digelutinya sungguh menguntungkan. Dalam waktu dua bulan ia sudah balik modal.
Bicara mengenai jiwa bisnis, Kartini memang sudah diterpa dengan kebiasaan berdagang. Perempuan kelahiran Tanjung Karang, Lampung, 21 Maret 1973 ini semenjak kecil sudah terbiasa berbisnis. Apa saja ia geluti. Mulai dari mengantar kue ke warung-warung saat SD hingga berjualan kosmetik ketika kuliah.
Saat SD misalnya, tanpa lelah Kartini akan mendatangi warung-warung pada pagi hari untuk memasok kue buatan ibunya. “Kemudian, pada sore hari saya akan kembali mendatangi warung itu untuk menghitung keuntungan,” ceritanya. Tak hanya kue, ketika duduk di kelas 5 SD, sang ibu membuka warung nasi. Kartini kebagian tugas untuk berbelanja setiap subuh.
Bisa dibayangkan, di saat matahari masih belum tampak, anak seusianya sudah membantu sang ibu untuk belanja ke pasar. Setelah dari pasar barulah ia pergi ke sekolah. “Pulang sekolah pun saya tak langsung istirahat, tapi saya harus menjaga warung nasi ibu. Kasihan tak ada yang menemani dia,” kata Kartini mengingat masa kecilnya.
Dari kegiatan membantu sang ibu itu, Kartini mendapatkan tambahan uang jajan. Lumayan. Uang itu ia kumpulkan dan ia belikan buku cerita dan baju baru. Kesenangan inilah yang membuat dirinya bersemangat membantu sang ibu.

BEKERJA SAMBIL BERBISNIS
Terpaan masa kecil inilah yang dibawa Kartini hingga dewasa. Memasuki bangku kuliah di Akademi Bahasa Asing Lampung, Kartini kembali berbisnis. Ia menjual kosmetik. “Dan teman-teman saya merespon baik bisnis itu,” paparnya. Ketika melanjutkan kuliah di London School, Jakarta, ia kembali berbisnis. Pada prinsipnya, Kartini selalu melihat peluang bisnis yang menguntungkan. “Di Jakarta saya menjual baju dan kerudung lewat toko online,” katanya.
Tak puas dengan bisnis itu, setelah lulus kuliah dan bekerja, Kartini kembali mencari bisnis sampingan lain. Malah, ia sampai ikut seminar untuk menetukan ide usaha. “Dari seminar itu saya mendapatkan ilmu bahwa bisnis harus dilandasi dari hobi kita,” katanya.
Dari situ pula ia belajar manajemen bisnis di UKMKU. “Dan saya memutuskan untuk berbisnis makanan,” lanjut ibu dari Kenzie (3) ini. Ia membuat makanan seperti siomay, bakso, pempek, dan mi. Menurut Kartini, semua makanan itu sangat disukai oleh masyarakat. Sebelum menjual semua makanan tersebut, ia menawarkan terlebih dahulu kepada saudara-saudaranya.
Kartini mendadak tak percaya diri kalau-kalau makanan itu tak laku dijual. Setelah mendapat respon yang positif, enam bulan kemudian ia pun memberanikan diri untuk menjual semua makanan bikinannya. Ia menamakan brand bisnisnya Mommy’s Kitchen. Promosi yang dilakukan pun sangat sederhana. Kartini membuat brosur tentang bisnis makanannya dan membagikan kepada orang-orang di sekitar rumah dan kantornya.
Ia juga menyasar para penghuni kos yang berada di sekitar rumahnya. “Kebetulan tempat tinggal saya dekat dengan kampus,” ucapnya. Ia juga mendatangi tempat kos milik temannya. Di tempat kos yang terdiri dari 30 kamar itu, Kartini membagikan brosur kulinernya. Alhasil, banyak yang pesan kepadanya.
Tak heran, modal yang ia keluarkan Rp7 juta langsung balik untung pada bulan kedua. Kartini mengaku, suaminya juga sangat berperan dalam bisnis ini. Sang suami tak sungkan-sungkan untuk menawarkan makanan itu kepada teman-teman kantornya. “Dari situ pesanan saya semakin bertambah dan bertambah,” ucapnya.
 
MENGUNTUNGKAN
Dari bisnis itu, setiap bulan rata-rata Kartini mendapatkan tambahan uang Rp10 juta. Ada beberapa menu yang ia buat setiap bulannya, antara lain: pempek, dim sum, lumpia, pisang goreng, bakso, tekwan, mi ayam, dan siomay. Ternyata siomay mendapat sambutan yang cukup bagus. Dalam satu minggu order untuk siomay bisa berkali-kali.
Ia pun mematuk minimum pemesanan bila ada pelanggan yang menginginkan makanan diantar ke rumah masing-masing. “Untuk perusahaan, minimal order 300 buah siomay. Tapi, jika per orangan minimal order Rp25 ribu. Kalau masih di seputaran rumah saya di Kuningan dan Sudirman tidak dikenakan ongkos,” ceritanya.
Berhubung sehari-hari ia bekerja, akhirnya Kartini merekrut 4 karyawan untuk membantunya sehari-hari. Tiga orang untuk juru masak dan satu orang untuk kurir antar. Ke depannya, ia ingin membuka kantin dengan menu utama siomay. Konsepnya adalah siomay pinggir jalan dengan rasa yang enak dan harga murah. “Pokoknya siomay buatan saya tidak menggunakan bahan pengawet dan higienis,” tutupnya sambil berpromosi.

Sunday, October 7, 2012

Ermaningsih Bikin Roti Rumahan

Ditulis oleh Fitri Hariyadiningsih   
Senin, 10 September 2012 10:49
alt
Berawal dari iseng-iseng berbisnis, kini Ermaningsih (40) menjadi pengusaha roti rumahan. Usaha rumahan ini ia pilih agar Ermaningsih tetap fokus mengurus anak dan suami.
 
Dulu, dalam pikiran Erma, ibu rumah tangga itu hanya bisa mengurus keluarga. Tak ada aktivitas yang bisa mendatangkan uang. “Ternyata anggapan itu tidak benar. Justru saya bisa menjalankan kedua peran itu dengan baik, sebagai ibu rumah tangga sekaligus menjadi pengusaha,” kata wanita asal Blora, Jawa Timur ini.

Keinginan berbisnis itu muncul ketika Erma mulai merasa banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Ia mengatakan, sebetulnya, pendapatan dari sang suami, Parno (52) cukup untuk biaya sehari-hari. “Namun, setelah ketiga anak saya, Aprilia Wahyuningtyas (17), Yania Wahyupangestika (15), dan Adinda Handayani (11) beranjak dewasa, kebutuhan semakin banyak,” tuturnya.
 
Sempat terpikir untuk bekerja kantoran, tapi tak mungkin karena dirinya ingin total mengurus keluarga. Suatu hari ia menonton televisi. Di tayangan itu ada seorang ibu rumah tangga yang sukses berbisnis kuliner. “Dia saja bisa, masak saya tidak bisa,” begitu pikirnya saat itu. Iseng-iseng, ia pun mencari tahu pelatihan bisnis yang bisa mengakomodir keinginannya.
 
Dari situlah akhirnya Erma menemukan UKMKU. Ia pun memulai pelatihan menjadi pengusaha rumahan. “Saya benar-benar memulainya dari nol. Saya tidak punya bakat dan ide, yang penting ada kemauan,” jelasnya. Sesampainya di tempat pelatihan, Erma sempat kebingungan karena tak tahu harus mengikuti pelatihan apa. “Tiba-tiba saya terbesit ingin membuat bisnis roti rumahan. Sepertinya bisnisnya tidak terlalu sulit,” jelasnya.
 
Ketika pelatihan dimulai, Erma selalu bertanya kepada mentornya. Dari hal-hal kecil sampai hal besar. “Saya bertanya karena memang tidak mengerti bisnis sama sekali,” lanjutnya. Sampai-sampai mentor mencap sebagai murid yang banyak tanya. Tapi ia tak peduli. Baginya, lebih baik banyak bertanya agar paham dan bisa menjalani bisnis.
 
 
altKELUARGA TETAP UTAMA
 
Selesai pelatihan membuat roti, Erma pun langsung mengaplikasikan ketrempilannya tersebut di rumah. Untuk tahap awal, ia memproduksi roti sebanyak 39 buah. “Sekitar 26 roti saya titip jual ke warung-warung terdekat dan sisanya saya kasih ke keluarga,” jelasnya. Ternyata masalah tak selesai di situ. Saat menawarkan roti-roti tersebut kepada masyarakat, Erma sempat malu menjadi penjual roti. Banyak anggapan yang terbesit di pikirannya. Jangan-jangan orang-orang akan mencemooh, atau, masak suaminya masih bekerja tapi istrinya sudah berjualan roti. Memangnya penghasilan suami tidak cukup? Begitulah pikiran negatif yang terbesit di pikirannya.
 
Ternyata Erma baru tahu, bahwa berbisnis itu butuh keberanian dan harus menghilangkan rasa malu. Untuk itu, ia memasang strategi agar roti buatannya laku. Ia tak segan-segan meminta para pemilik warung untuk icip-icip roti buatannya. Ia juga menjelaskan bahwa roti buatannya itu tanpa bahan pengawet dan aman. “Dengan begitu mereka tahu rasa dan kualitas roti saya,” katanya.  
 
Di luar dugaan, cara ini membuat rotinya laris di warung-warung. Keesokannya Erma semakin semangat membuat roti. Dan lagi-lagi ludes terjual. Roti itu semakin laris manis lantaran ia membanderol Rp1.000 untuk satu buah roti. “Termasuk murah, bukan?” katanya mantap. Lambat-laun beberapa warung pun mulai memesan roti kepadanya. Namun, bukan berarti bisnisnya tanpa halangan. “Ada sebagian warung yang menolak roti saya,” ceritanya.
 
Bagi Erma, warung yang sudah menolak produknya tak akan ia datangi lagi. Ia akan mencari warung yang baru. Berhubung roti itu mulai laku, sampai-sampai warung yang pernah menolak roti buatannya akan mendatangi Erma. “Malah si pemilik warung sampai mendatangi rumah saya untuk dikirimi roti,” jelasnya sambil tertawa.
 
 
TARGET 60 WARUNG
 
Setelah satu tahun bisnis roti berjalan, kini roti buatan Erma dijual di 22 warung dekat rumahnya. Setiap hari, sekitar 400-500 buah roti ia produksi. “Dan syukurlah semuanya habis terjual,” katanya. Dari situ pula ia mengembangkan bisnis dengan cara membeli peralatan untuk menunjang produksi roti. Seperti, oven besar, mixer, dan lain-lain.
 
Sebelum semua alat-alat itu terbeli, Erma mengaku kesulitan memproduksi roti karena permintaan yang sangat tinggi. Belum lagi, semua itu ia kerjakan sendiri. Alhasil, tangannya menjadi sakit karena terlalu sering mengaduk adonan roti. Setelah mendapatkan keuntungan dari penjualan roti tersebut, ia juga merekrut karyawan untuk memproduksi roti. “Saya mengambil orang-orang di sekitar rumah yang masih muda-muda,” lanjutnya.
 
Erma juga bercerita, ketika pesanan mulai meningkat, ia sempat kerepotan mengurus anak. Malah, terkadang ia tak ada waktu untuk mengantar dan menjemput anak ke sekolah. “Suami saya sempat menegur saya gara-gara masalah ini. Ia meminta saya untuk mengutamakan keluarga,” katanya. Dari situlah, akhirnya Erma menyerahkan produksi roti kepada karyawannya. dengan begitu ia masih banyak waktu untuk mengurus keluarga.
 
Kata Erma, bisnis itu tergantung niat dari awal. Semenjak pertama kali merintis bisnis, tujuan utama ia tetap keluarga. “Jadi keluarga harus tetap nomor satu,” tuturnya. Ternyata, dengan begini bisnis Erma menjadi berkah. Buktinya, permintaan dari warung akan roti buatannya pun semakin meningkat. “Target saya tahun ini bisa mencapai 60 warung. Saya yakin pasti bisa,” tutupnya.
 
 
 
Ermaningsih
Jalan radar Auri Rt 004/RW 09 n0. 20
Kampung Tipar Mekarsari
Cimanggis, Depok
Tlp : 0812 8464 2137 / 87753866